Rabu 15/6/2016, 14.06 WIB
Dwi Wahyu Daryoto
Direktur SDM dan Umum Pertamina
Leader's Insight

Pertamina, Tempat Berkarier yang Komplit Bagi Pencari Kerja

"Sebaik-baiknya program yang dijalankan bila pekerjanya tidak memiliki kesadaran untuk berperilaku dengan baik tentu tidak akan tercapai."
Pertamina
Arief Kamaludin|KATADATA

PT Pertamina (Persero) berhasil meraih penghargaan Top 10 Companies/ Organization to Work For dalam Indonesian Employers of Choice Award 2015 yang diselenggarakan majalah SWA bersama HayGroup. Direktur Sumber Daya Manusia dan Umum PT Pertamina (Persero), Dwi Wahyu Daryoto, menyampaikan langkah strategis dan upaya inovatif di masa mendatang, agar perusahaan tetap bertahan dan tumbuh.

SWA dan HayGroup memberikan penghargaan kepada Pertamina sebagai perusahaan yang paling diidamkan para pencari kerja. Bagaimana mencermati pencapaian ini?

Bagi perusahaan penghargaan tersebut memberikan dua aspek. Pertama, membanggakan. Kemudian aspek untuk mempertahankan prestasi yang sudah diraih. Diharapkan kami bisa mempertahankannya pada tahun-tahun berikutnya. Sebab bentuk penghargaan merupakan suatu tantangan sekaligus kebanggaan.

Apakah pencapaian ini menunjukkan hasil dari kinerja pekerja Pertamina, atau menunjukkan Pertamina adalah One of The Most Wanted Company in Indonesia?

Menurut saya, hal ini ada hubungannya dengan andil para pekerja karena tidak mungkin hanya dilakukan oleh manajemen atau direksi. Pekerjalah yang awalnya memberikan performa terbaiknya, yang akan memberi dampak positif kepada perusahaan. Citra positif perusahaan inilah yang memberi dampak positif kepada para pencari kerja. Di samping itu, pekerja juga punya ikatan alumni melalui grup informal sehingga tercipta sharing pengalaman. Misalnya, seperti program “Pertamina Mengajar”, baik direksi maupun manajemen berbagi informasi mengenai Pertamina di kampus-kampus.

Apakah ini merupakan buah dari transformasi yang sudah berjalan bertahun-tahun di Pertamina ?

Hal tersebut menurut saya merupakan buah dari transformasi Pertamina yang dijalankan selama ini. Sebab transformasi itu memang dilakukan secara terus menerus. Dengan program transformasi yang berlandaskan kepada nilai-nilai 6C diharapkan bisa mengubah citra Pertamina ke arah yang lebih baik. Sementara itu, kita harus hati-hati terhadap pengaruh kinerja internal pasca memperoleh penghargaan. Karena penghargaan seperti ini membuat kita terlena, meninabobokan kita, sehingga kita merasa di comfort zone. Namun demikian, segi positifnya para pekerja akan makin termotivasi dan semakin tersaingi dan akan meningkatkan kinerjanya. Kita harus tunjukkan bahwa pekerja Pertamina berkualitas.

SWA dan HayGroup melakukan survei terkait penghargaan ini berdasarkan beberapa parameter, antara lain gaji, tunjangan dan jenjang karier yang terukur. Apakah hal ini sesuai ekspetasi pekerja yang sudah bergabung dengan Pertamina?

Gaji merupakan hal yang sangat manusiawi, karena tidak ada orang yang tidak mau digaji tinggi. Kesemuanya itu tentu sudah ada standarisasi, bagi saya bukan unsur gaji saja yang dilihat. Justru melalui employee engagement maka seorang pekerja bakal terikat, baik terhadap pekerjaannya maupun perusahaan, dengan begitu kinerjanya pun akan unggul. Pembentukan employee engagement sangat penting bagi Pertamina guna mendongkrak visi dan misi perusahaan. Dengan demikian, bukan hanya gaji yang menjadi tolok ukur bagi pekerja Pertamina. Justru fokus utama mereka adalah jenjang karir. Pertamina merupakan tempat berkarier yang paling komplit dan kompleks bagi jobseekers. Karena semuanya harus berawal dari hulu dan hilir. Bahkan itu pun tidak hanya melulu bisnis migas saja. Terdapat banyak penunjang seperti Patra Jasa, Perhotelan, Rumah Sakit, kemudian Pelita Air Service di bidang penerbangan. Maka dari itu, hal ini yang harus kita informasikan dengan baik untuk memberikan kesempatan kepada mereka.

Hal apa lagi yang membuat Pertamina berada di peringkat puncak sebagai perusahaan idaman jobseekers?

Sebagai perusahaan yang diidamkan para pencari kerja, unsur lain yang dicari adalah job security. Mengingat Pertamina adalah BUMN, maka siapa pun tentu menginginkan posisi kerja yang aman bagi para pekerja. Sehingga tidak jarang banyak pekerja yang akhirnya terlena dengan job security tersebut. Alhasil kinerja pun lambat laun menurun. Karena itu, program transformasi harus dilakukan secara berkelanjutan guna terciptanya nilai-nilai 6C. Dampak terburuknya, tata nilai 6C bisa berakhir di tataran normatif saja.

Bagaimana strategi perusahaan dalam mendapatkan pekerja terbaiknya, alih-alih kondisi perusahaan yang terkena dampak penurunan harga minyak dunia?

Bagi saya di tengah kondisi penurunan harga minyak saat ini tidak ada korelasinya sama sekali dalam mendapatkan talent terbaik. Karena mencari pekerja yang terbaik harus melihat dari segi sustainability & growing company di masa mendatang. Apalagi kalau dilihat dari demografi pekerja, baik dari segi usia maupun leveling masih dibawa benchmark. Istilahnya seperti pelana kuda. Justru hal ini yang harus kita isi terus dengan rekruitmen, dan acceleration program. Yang muda akan mengisi level tengah yang memang diperlukan dalam jangka waktu 10 hingga 15 tahun ke depan. Maka dari rekrutmen atau pembinaan pekerja tidak ada hubungannya dengan krisis. Justru di masa krisis ini kita harus melakukan langkah-langkah atau inovasi agar perusahaan tetap sustain dan berkembang.

Apa yang harus dilakukan perusahaan dan pekerja dilihat dari sisi transformasi budaya?

Lebih jauh, sebaik-baiknya program yang dijalankan bila pekerjanya tidak memiliki kesadaran untuk berperilaku dengan baik tentu tidak akan tercapai. Artinya, program budaya transformasi hanya semacam sarana untuk mencapai budaya organisasi yang sesuai dengan visi dan misi perusahaan. Untuk mengimplementasikan hal itu dengan benar, harus memiliki sikap kepemimpinan. Menjadi seorang leader atau pemimpin tidak harus di dalam organisasi saja, akan tetapi mampu untuk memimpin dirinya sendiri.

Bagaimana untuk menjaga komitmen dan motivasi pekerja untuk tetap mempertahankan produktivitasnya?

Hal ini tentu harus diimplementasikan kepada diri sendiri. Komitmen dan motivasi harus berawal dari kesadaran individu. Leader by yourself atau pemimpin atas dirinya sendiri justru hal yang sangat penting dalam rangka mendisiplinkan kepribadian. Maka untuk mempertahankan produktivitasnya harus saling menginspirasi dan terinspirasi satu sama lain. Misalnya, agar menjadi leader bagi orang lain, maka harus memberikan contoh yang baik kepada anak buah. Role model diperlukan sebagai acuan dan panutan. Saya yakin, bila hal tersebut diterapkan maka budaya transformasi kesemuanya itu akan tercapai dengan baik.

Microsite ini hasil kerja sama antara Katadata dan Pertamina