Jum'at 30/12/2016, 14.46 WIB
Dwi Soetjipto
Direktur Utama Pertamina
Leader's Insight

Optimalkan Seluruh Peluang Bisnis demi Kemandirian Energi Nasional

Guna mengembalikan kejayaan produksi migas Indonesia, diperlukan kerja keras berbagai komponen bangsa.
Kilang Pertamina
Katadata | Dok.

Sejumlah kajian memprediksi perekonomian Indonesia akan tumbuh pesat di masa depan. Salah satunya kajian yang dirilis PWC pada Februari 2015 berjudul “The World In 2050: Will The Shift In Global Economic Power Continue?” Kajian tersebut mengemukakan bahwa pada 2050 Indonesia akan menjadi negara dengan tingkat gross domestic product (GDP) terbesar keempat di dunia berdasarkan purchasing power parity (PPP).

Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang diharapkan, tentunya perlu ditopang dengan penyediaan energi yang memadai. Di era 1980-an, Indonesia pernah mengalami kejayaan di sektor minyak dan gas bumi (migas) atau boom oil dengan total produksi mencapai 1,6 juta barel per hari (bph). Dengan produksi minyak setinggi itu, Indonesia menjadi eksportir dan anggota OPEC (Organization of The Petroleum Exporting Countries) yang disegani negara lain.

Guna mengembalikan kejayaan produksi migas Indonesia, diperlukan kerja keras berbagai komponen bangsa. Selain pemerintah sebagai regulator, kinerja migas juga membutuhkan peran perusahaan energi nasional (national energy company) yang andal. Di tengah tantangan besar yang dihadapi seperti penurunan harga minyak dunia dalam dua tahun terakhir, Pertamina terus melakukan langkah-langkah proaktif. Manajemen telah menetapkan lima strategi prioritas yang terdiri dari : (1) Pengembangan sektor hulu; (2) Efisiensi di semua lini; (3) Peningkatan kapasitas kilang dan petrokimia; (4) Pengembangan infrastruktur dan marketing; dan (5) Perbaikan struktur keuangan.

Di sektor hulu, di tengah anjloknya harga minyak dunia, Pertamina tetap mengedepankan upaya-upaya untuk menambah cadangan baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Pertamina juga melakukan efisiensi biaya serta mengoptimalkan aset dan menciptakan nilai tambah. Antara lain melalui pengelolaan sumber daya dan cara pandang yang terintegrasi; mengembangkan proyek-proyek yang profit-driven; mengembangkan teknologi yang terbaik dan tepat untuk kemajuan perusahaan, termasuk di dalamnya adalah penguasaan teknologi I/ EOR (improved/enhanced oil recovery) dan lepas pantai terus kami lakukan.

Pengembangan geothermal dan pengelolaan blok-blok yang akan habis masa kontraknya sebagaimana aspirasi Pasal 33 UUD 1945 juga menjadi fokus Pertamina. Khusus merger dan akuisisi (M&A), Pertamina terus melakukan evaluasi untuk mendapatkan peluang mengakuisisi blok-blok di luar negeri. Salah satunya dengan mengakuisisi saham Maurel & Prom sebesar 24,53 persen di mana hasilnya kini telah dirasakan.

Hingga akhir Oktober 2016, produksi migas mencapai 649 ribu barel setara minyak per hari (mboepd), lebih tinggi 11.3 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 584 mboepd. Dengan berbagai upaya yang dilakukan untuk dapat terus tumbuh secara organik dan anorganik, Pertamina menargetkan dapat berproduksi sebesar 1.900 mboepd pada 2025. Oleh karena itu, meski tantangan menghadang, Pertamina terus mengoptimalkan setiap peluang yang ada. Pertamina berusaha untuk tumbuh, baik secara organik maupun anorganik, dengan harapan agar ketika kondisi membaik, perusahaan bisa langsung melesat.

Dalam hal refinery, desain awal kilang-kilang Pertamina yang didirikan antara 1920an hingga 1990an adalah untuk mengolah minyak mentah lokal yang umumnya light sweet crude. Harganya relatif lebih mahal sementara kapasitas produksi kilang existing saat ini hanya sebesar 900 ribu barel/hari di mana keutuhannya mencapai 1.660 ribu barel/hari. Dengan melihat kepada supply & demand bahan bakar minyak (BBM) hingga 15 tahun ke depan (sampai tahun 2030), supply BBM yang dapat dipenuhi sebesar 99 juta KL sementara demand mencapai 118 juta KL. Karena itulah Pertamina melakukan program pengembangan kapasitas kilang minyak dengan target kapasitas desain pada 2025 mencapai 2 juta barel per hari.

Upaya tersebut dilakukan dengan pengembangan kilang-kilang existing melalui refinery development master plan (RDMP) dan pembangunan new grass root refinery (NGRR). Dengan pengembangan ini, diharapkan kilang-kilang Pertamina akan mampu mengolah sour crude yang harganya lebih murah. Didukung dengan kompleksitas yang tinggi, margin pun diharapkan akan semakin baik sehingga secara rata-rata kilang Pertamina akan menjadi yang paling kompetitif di kawasan Asia Pasifik.

Langkah ini diharapkan juga akan mampu meningkatkan ketahanan dan kemandirian energi nasional karena akan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM. Contohnya, dengan optimalisasi kilang TPPI Tuban dan dukungan dari Kilang RFCC Cilacap dapat mengurangi impor BBM jenis Premium hingga 36 persen dan Solar hingga 40 persen. Pengoperasian Kilang TPPI Tuban juga melahirkan efek berantai, mulai dari penghematan devisa, monetisasi investasi, penyerapan tenaga kerja, penciptaan lapangan kerja baru, hingga penguatan nilai tukar rupiah dengan berkurangnya impor BBM.

Dalam pengembangan gas, energi baru dan terbarukan, Pertamina mengambil peran dalam penyediaan bahan bakar gas untuk transportasi; pengembangan energi dari biomassa dan bio gas; mini hydro, surya, angin, dan geothermal untuk listrik yang ditargetkan bisa menyuplai 1,0 GW pada 2020. Selain itu juga akan dilakukan pengembangan sampah kota untuk LNG, micro algae, dan green diesel.

Di sisi pemasaran, Pertamina terus memperkuat posisi di dalam negeri dengan membangun infrastruktur dan gencar melakukan strategi pemasaran yang terintegrasi. Di antaranya dengan diluncurkannya Pertalite sebagai respons Pertamina dalam menjawab permintaan konsumen yang menginginkan BBM dengan kualitas (RON) lebih baik dari Premium tapi dengan harga yang kompetitif (di bawah Pertamax). Serta diluncurkannya Pertamax Turbo dengan RON 98 sebagai upaya reposisi produk Pertamax Plus dengan kualitas BBM yang lebih baik lagi. Selanjutnya, melalui Pelumas Pertamina, kami juga mampu meningkatkan image produk dengan menggandeng perusahaan otomotif terkenal di dunia, Lamborghini.

Selain memperkuat posisi di dalam negeri, Pertamina juga melakukan ekspansi ke luar negeri. Saat ini, produk pelumas Pertamina telah hadir di 14 negara di dunia. Demikian pula dengan bisnis Aviasi, kami telah melayani refueling Avtur kepada airlines domestik maupun internasional pada lebih dari 60 airport di kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah, dan Eropa.

Sejumlah breakthrough project (BTP) juga telah dilakukan Pertamina untuk mendukung implementasi dari lima strategi prioritas yang telah ditetapkan manajemen. Hingga akhir Oktober 2016, BTP yang dijalankan telah menghasilkan value creation sebesar US$ 2,485 miliar. Secara organisasi, Pertamina juga menerapkan organization streamlining program yang berfokus bukan hanya dari sisi operational excellence, namun juga bagaimana lebih mengedepankan competitiveness untuk mencapai business sustainability.

Kami berharap dukungan penuh dari semua pihak, khususnya pemerintah sebagai pemegang saham sehingga Pertamina mampu menjadi “the true economic powerhouse” guna mendukung terwujudnya kemandirian dan ketahanan energi nasional.

Microsite ini hasil kerja sama antara Katadata dan Pertamina