Jum'at 19/5/2017, 21.47 WIB
Leader's Insight

Jujur, Tulus, dan Amanah

Di tengah tingginya kompetisi, semua pelaku bisnis saling bersaing untuk mendapatkan konsumen. Hanya pelaku bisnis yang jujur dan amanahlah yang bisa meraih konsumen loyal.
Pertamina
Donang Wahyu|KATADATA

 

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Elia Massa Manik percaya bahwa sumber daya manusia (SDM) adalah aset berharga yang menjadi modal utama dalam menjalankan perusahaan. Karena itu, sejak menjadi orang nomor satu di Pertamina, ia menekankan untuk bekerja dengan hati berdasarkan nilai-nilai jujur, tulus dan amanah.

Massa menjelaskan, ketiga nilai tersebut sebenarnya bukan “barang baru” bagi Pertamina karena masih terkait dengan nilai perusahaan yang sudah ada sebelumnya, yakni 6C (Clean, Competitive, Capable, Commercial, Customer Focus dan Confident).

“Saya tidak reinventing the wheel, karena semuanya sudah ada di Pertamina,” ujarnya pada suatu kesempatan seperti dikutip dari publikasi digital Energia.

Ketiga nilai tersebut diyakini dapat menjawab tantangan bisnis saat ini yang mengutamakan etika bisnis dan kepercayaan. Di tengah tingginya kompetisi, semua pelaku bisnis saling bersaing untuk mendapatkan konsumen. Hanya pelaku bisnis yang jujur dan amanahlah yang bisa meraih konsumen loyal.

Contoh sederhananya adalah pedagang bakso. Warung bakso bisa ditemukan di banyak tempat, namun tidak semua warung bakso ramai dikunjungi pelanggan. Biasanya, hanya segelintir warung bakso yang ramai bahkan konsumennya rela sampai mengantre. Mengapa demikian? Karena konsumen percaya baksonya enak. Konsumen juga percaya, si pedagang bakso dapat menjaga kualitas bakso sesuai ekspektasi konsumen. Inilah salah satu contoh bagaimana nilai jujur dan amanah dapat menjadi kunci untuk memenangkan pasar. Jujur menggunakan bahan-bahan yang sesuai standar dan amanah dalam melayani konsumen.

Lalu bagaimana dengan tulus? Massa meyakini dengan bekerja secara tulus dari hati, maka kemauan kita akan lebih kuat dan pikiran akan lebih fokus. Hal ini tentu akan berdampak pada produktivitas yang lebih baik dan kinerja yang meningkat.

“Ini pekerjaan kita bersama dan dimulai dari saya sendiri,” katanya.

Bukan tanpa alasan Massa mengusung nilai-nilai jujur, tulus dan amanah. Ia sudah membuktikan, dengan berpedoman pada ketiga nilai tersebut, dirinya mampu melewati beberapa masa krisis ketika memimpin perusahaan sebelumnya. Seperti saat memimpin PT Perkebunan Nusantara III yang hampir karam namun dengan menunjukkan etika kerja yang baik dan dapat dipercaya, PTPN III dapat meraih kembali kepercayaan perbankan dan meningkatkan kinerjanya.

Demikian juga saat memimpin Elnusa. Massa bahkan berpikir bahwa Elnusa, dengan cash flow yang saat itu yang hanya Rp 27 miliar mungkin hanya bisa bertahan sekitar dua hingga tiga bulan saja. Hingga kemudian ia berpesan kepada pekerjanya “Apabila perusahaan ini hancur, maka kita juga hancur. Lalu mau kerja dimana? Ceritakan apa yang menjadi kendala, selanjutnya kita bereskan bersama,” tegasnya.

Pesan tersebut ternyata mampu membuka hati dan pandangan para pekerjanya. Mulai saat itu pula kinerja Elnusa membaik, bahkan mampu membukukan laba bersih 114% dibandingkan periode sebelumnya. Kini, tantangan yang dihadapi lebih besar sebab harus mengelola ribuan pekerja yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dan beberapa lokasi operasi di luar negeri.

Tidak mudah mengelola 15.000 pekerja dalam satu perusahaan. Meski demikian, Massa mengetahui kuncinya, yaitu memulai dari level puncak terlebih dahulu. Suksesnya kinerja perusahaan ditentukan dari kualitas pimpinannya, yang bagi Massa harus mencerminkan kompetensi dan integritas.

Dua hal itulah yang ditekankan Massa kepada seluruh manajemen level atas perusahaan hingga cucu perusahaan. “Buatlah diri kalian pantas berada di situ,” tutur Massa.

Menjawab Kompetisi Pasar

Kondisi bisnis saat ini bisa dikatakan tidak menentu. Perubahan terjadi sangat cepat dan kerap kali di luar prediksi. Ini adalah tantangan untuk Pertamina agar bisa menyediakan produk dan layanan yang bisa bersaing di tengah kompetisi. Bagi Massa, Pertamina sebetulnya sudah memiliki modal produk yang bagus, teruji, bahkan terbilang unggul di kelasnya.

Meski begitu, Pertamina tidak boleh berpuas diri karena perkembangan pasar terus terjadi. Untuk itulah Massa kemudian membentuk fungsi Research and Technology Center (R & T Center) yang dipimpin pejabat setingkat senior vice president. Ia menekankan pentingnya riset dan teknologi untuk membaca tren energi dunia, termasuk diantaranya pengembangan energi baru dan terbarukan.

Seperti diketahui, beberapa negara maju seperti Jepang kini sudah mulai mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dan beralih ke gas. Hal ini harus menjadi perhatian Pertamina terutama dalam mengelola proyek-proyek skala besar, agar tetap memperhitungkan tren konsumsi energi dunia.

Sementara di sektor pemasaran, kondisi bisnis dalam negeri dan luar negeri sama sama tidak mudah. Di dalam negeri, Pertamina dituntut untuk tetap mencari profit meskipun diberikan penugasan dari negara.

“Ini adalah seni melayani. Bagaimana kita melayani di satu sisi, dan mencari profit di sisi yang lain,” kata Massa.

Menyediakan BBM dan liquefied petroleum gas (LPG) untuk 200 juta jiwa rakyat Indonesia bukan perkara sembarangan. Meskipun didukung oleh lebih dari 120 terminal BBM di seluruh Indonesia, namun kondisi geografis daerah pelosok menjadi tantangan tersendiri bagi Pertamina. Apalagi kini Pertamina sedang menjalankan program BBM Satu Harga, terutama bagi daerah yang berada di remote area.

Sedangkan di luar negeri, Pertamina berhadapan dengan kompetisi yang sangat ketat. Namun ada satu kekuatan Pertamina yang dilihat Massa perlu diintegrasikan, yaitu international network Pertamina. Massa berharap bisa mengoptimalkan kantor-kantor perwakilan Pertamina di luar negeri sebagai intelijen bisnis yang memberikan informasi tren bisnis energi yang sedang berkembang.

Dengan modal-modal yang sudah dipunyai Pertamina itu, tugas Massa sebagai Direktur Utama adalah mendorong agar semuanya terintegrasi dan terakselerasi. “Saya tidak reinventing the wheel, karena semuanya sudah ada di Pertamina. Tapi bahwa saya memberanikan diri untuk segera mengeksekusi rencana mereka, iya,” tegasnya.

Dengan terintegrasinya sistem dan akselerasi program-program perusahaan, maka Pertamina seharusnya bisa lebih lincah menghadapi kompetisi bisnis yang semakin ketat. “Please, life is can not be like business as usual seperti yang kemarin-kemarin,” ujarnya.

Microsite ini hasil kerja sama antara Katadata dan Pertamina